Nilai-Nilai Kewanitaan dalam Budaya Jawa

Abstak:  Wanita Jawa sangat identik dengan kultur Jawa, seperti bertutur kata halus, tenang, diam (kalem), tidak suka konflik, mementingkan harmoni, menjunjung tinggi nilai keluarga, mampu mengerti dan memahami orang lain, sopan, pengendalian diri tinggi atau terkontrol, dan daya tahan untuk menderita tinggi. Bila ada perselisihan ia lebih baik mengalah, tidak gegabah, tidak grusa-grusu, dan dalam mengambil langkah mencari penyelesaian dengan cara halus. Dalam konsep budaya Jawa terdapat beberapa istilah tentang wanita, yaitu: wadon, pawèstri, putri, wanodya, retna, kusuma, memanis, juwita, wanita, dan dayita. Masing-masing istilah ini mempunyai arti tersendiri yang menunjukkan bahwa wanita dalam pandangan masyarakat Jawa memiliki peran istimewa (Basuki, 2005:5).

Istilah wanita secara konseptual dipaparkan dalam untaian kata: “sira dèn-bisa nuhoni witing nata tinggal sarananing priyanira.” Artinya, bahwa wanita harus bersungguh-sungguh dalam aturan dan satu rasa dengan suaminya. Dalam khasanah kebudayaan Jawa, wanita merupakan akronim (jarwa dhosok) dari kata wani ditata, maksudnya bersedia diatur oleh suaminya.
Istilah wadon memiliki arti wewadi (rahasia), sebagaimana dalam pandangan masyarakat Jawa dinyatakan: “dèn-bisa rumeksa wewadinira lan wewadining priyanira” (pandai-pandailah menjaga rahasia pribadi dan rahasia suaminya). Kata wadon berarti berkaitan erat dengan wadi adon-adon, yang dalam pemahaman budaya Jawa memiliki makna mampu menyimpan rahasia dan pandai dalam meramu, melayani, serta tanggap dalam menanggapi situasi dan kondisi.

Berikut tulisan Sriyadi (http://sriyadi.dosen.isi-ska.ac.id) selengkapnya.

Pendahuluhan
Istilah “wanita” dari sudut pandang genetik dilawankan dengan istilah “pria,” “putri” dilawankan dengan “putra,” dan “perempuan” merupakan lawan jenis “laki-laki.” Secara fisik perempuan pada dasarnya bukan sekedar tubuh yang berbeda dengan laki-laki. Secara biologis perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan yang dapat ditengarai melalui bentuk kelamin. Berdasarkan perbedaan tersebut, pernyataan bahwa kekuatan perempuan lain dengan laki-laki biasa diucapkan. Laki-laki dan perempuan sesungguhnya memiliki substansi sama dalam kepemilikan “jiwa abadi” (manusia sebagai ciptaan Tuhan) yaitu jiwa yang tidak mengenal perbedaan jenis seks.

Wanita secara fisik memang berbeda dengan pria; wanita sangat dipengaruhi oleh tugas kodrati. Tugas yang harus diembannya yaitu mengandung, melahirkan, dan menyusui, menjadi faktor utama bagi wanita tidak dapat aktif secara terus-menerus dalam upaya pengembang¬an diri. Sebaliknya laki-laki secara fisik tampak kuat, aktif, berdiri sendiri, dan mampu mengembangkan diri secara terus-menerus. Menurut Kruyt (seorang dokter dan apoteker asal Belanda) sebagaimana dikutip oleh Ch. Retnaningsih, bahwa hormon-hormon pria dan wanita mempengaruhi watak antara keduanya. Pada umumnya seorang pria mementingkan pikiran dan kurang mengutamakan perasaan; sebaliknya wanita lebih mementingkan intuisinya. Seorang pria ingin mencapai atau mencari hal yang “jauh” dan berani mengambil risiko untuk mencapai yang mencolok, sedangkan wanita lebih senang yang “aman.” Hal ini bukan berarti bahwa wanita dalam hal intelektual lebih lemah, melainkan justru wanita sangat hati-hati dan banyak pertimbang¬an dalam menentukan pilihan ataupun mengambil keputusan (Retna¬ningsih dalam Suara Merdeka, tanggal 26 Februari 1990).

Wanita Jawa sangat identik dengan kultur Jawa, seperti bertutur kata halus, tenang, diam (kalem), tidak suka konflik, mementingkan harmoni, menjunjung tinggi nilai keluarga, mampu mengerti dan memahami orang lain, sopan, pengendalian diri tinggi atau terkontrol, dan daya tahan untuk menderita tinggi. Bila ada perselisihan ia lebih baik mengalah, tidak gegabah, tidak grusa-grusu, dan dalam mengambil langkah mencari penyelesaian dengan cara halus.

Hilmiyah Darmawan dalam ceramah peringatan HUT IWARI, HKSN dan Hari Ibu, tanggal 23 Desember 1997 di Uni¬versitas Slamet Riyadi Surakarta, menyatakan bahwa wanita sering dijuluki sebagai makhluk yang lemah dan perlu dilindungi oleh pria. Akan tetapi penyelidikan ilmiah akhir-akhir ini menemukan bahwa otak wanita mempunyai kelebihan dari otak laki-laki, sehingga dapat disimpulkan bahwa bila wanita diberikan kesempatan yang sama dalam mencerdaskan dirinya setiap kesempatan yang diberikan kepada kaum lelaki maka ia tidak lagi dapat dikatakan “lemah.” Beberapa pendapat justru mengata¬kan bahwa wanita mempunyai kelebihan dari pria dalam hal keuletan atau tahan merasa sakit, memiliki naluri yang lebih tajam, mempunyai daya khayal yang lebih kuat dari kaum laki-laki.

Menurut Christina, wanita selalu mempertahankan keseimbangan batin dan berkelakuan sesuai dengan tuntutan keselarasan sosial; dalam hal ini terkandung pula kepasrahan aktif yang total kepada Tuhan. Di dalam kepasrahan inilah sesungguhnya rahasia ketahanan perempuan Jawa untuk “menderita” yang begitu tinggi berada. Berkaitan dengan ini maka “wanita” berasal dari kata “wani tapa” (berani bertapa), yang berarti bahwa wanita berani menderita, seperti ia mengandung sembilan bulan lamanya (Christina 2004: 210). Pengertian tersebut berkaitan erat dengan peran wanita sebagai istri dan ibu rumah tangga. Dalam masyarakat Jawa terdapat slogan yang disebut ma telu, yaitu (1) masak (memasak), (2) macak (berhias), dan (3) manak (memberi keturunan).

Dalam konsep budaya Jawa terdapat beberapa istilah tentang wanita, yaitu: wadon, pawèstri, putri, wanodya, retna, kusuma, memanis, juwita, wanita, dan dayita. Masing-masing istilah ini mempunyai arti tersendiri yang menunjukkan bahwa wanita dalam pandangan masyarakat Jawa memiliki peran istimewa (Basuki, 2005:5).

Istilah wadon memiliki arti wewadi (rahasia), sebagaimana dalam pandangan masyarakat Jawa dinyatakan: “dèn-bisa rumeksa wewadinira lan wewadining priyanira” (pandai-pandailah menjaga rahasia pribadi dan rahasia suaminya). Kata wadon berarti berkaitan erat dengan wadi adon-adon, yang dalam pemahaman budaya Jawa memiliki makna mampu menyimpan rahasia dan pandai dalam meramu, melayani, serta tanggap dalam menanggapi situasi dan kondisi. Seorang wanita harus bersikap mikul dhuwur mendhem jero, yakni mengangkat tinggi-tinggi (mikul dhuwur) nama baik atau kehormatan suami dan keluarganya serta mampu menanam dalam-dalam (mendhem jero) keburukan maupun kekurangan yang terdapat dalam diri suami dan keluarganya. Setiap orang memiliki sesuatu yang harus dirahasiakan, berkenaan dengan kejadian buruk (aib); kekurangan yang terdapat dalam dirinya harus ditutup rapat-rapat. Pada pokoknya sesuatu yang membuat dirinya menjadi tidak baik, harus dijaga kerahasiaannya, jangan sampai orang lain mengetahui.
Istilah pawèstri berasal dari kata “pametri wewadining babahan katri” (berusaha menjaga rahasia lubang yang ketiga). Istilah ini berkaitan dengan filosofi babahan hawa sanga dalam budaya Jawa. Babahan yang ketiga adalah vagina, yang dalam kehidupan dimitoskan sebagai ke¬hormatan wanita; keperawanan yang utuh adalah lambang kesucian dan kehormatan wanita.

Istilah putri berakar pada kata pametri, berarti pemelihara. Wanita hendaknya memelihara tubuh dan anggota badannya agar tetap halus atau lembut. Istilah ini berkaitan erat dengan kata wanodya, yang berarti mampu memelihara kecantikan lahir-batin. Dalam konsep budaya Jawa dinyatakan: “sira dèn bisa angadi-adiing lair batinira, karana paraning parasdya manuhara,” yang berarti seorang wanita harus dapat memelihara kecantikan lahir-batin, memperindah parasnya agar mengesankan.
Retna berarti permata. Dalam ungkapan bahasa Jawa dinyatakan “intoning nala dèn-bisa mawèh suka pirenaning priyanira, sarana gebyaring wadana, sumèhing naya,” artinya permata hati, yang dapat menggembira¬kan hati suami dengan cara menunjukkan wajah berseri-seri.

Kusuma berarti bunga. Dalam ungkapan Jawa dinyatakan: “badanira iku pengawak sekar, lan dèn-bisa asung ganda arum marang lakinira, nadyan wacana iya dèn-arum, saéngga kaya gandaning sekar warsiki.” Artinya, bahwa tubuh wanita bagaikan bunga yang berbau harum, indah dalam bertutur kata, laksana bunga gambir.

Memanis mengandung makna konsekuen antara lahir dan batin, sebagaimana dalam kalimat bahasa Jawa: “dèn-bangkit miyara dèn-gula (gula jawa), jumbuh nala panayaning wadana, ing saujar-ujarira dèn-memanis marang priyanira.” Artinya, bahwa wanita harus dapat memelihara diri agar seperti gula jawa, perbuatan sesuai dengan kata hati, dan dalam setiap tutur kata dapat menyenang¬kan hati suami.

Juwita mengandung makna berhati-hati, sebagaimana dalam ungkapan Jawa: “dèn-sarjuning ati titi, dèn-bisa mamrih suka pirenaning priyanira.” Artinya, bahwa wanita harus selalu berhati-hati, agar dapat memberi rasa senang terhadap suaminya.
Istilah wanita secara konseptual dipaparkan dalam untaian kata: “sira dèn-bisa nuhoni witing nata tinggal sarananing priyanira.” Artinya, bahwa wanita harus bersungguh-sungguh dalam aturan dan satu rasa dengan suaminya. Dalam khasanah kebudayaan Jawa, wanita merupakan akronim (jarwa dhosok) dari kata wani ditata, maksudnya bersedia diatur oleh suaminya.
Dayita mengandung makna menyenangkan. Dalam ungkapan Jawa dinyatakan: “mayanira dèn-bisa karya énggaring panggalihé priyanira” (mukanya harus dapat menyenangkan hati suaminya). Maksudnya, bahwa wanita harus mencoba memahami kemauan suami, jangan membanding-bandingkan dengan pria lain, jangan memuji pria lain di hadapan suami, dan kekurangan suami harus dipendam di dalam hati karena kekurangan suami tidak untuk dikatakan kepada orang lain.
Sepuluh padan kata tentang wanita sebagaimana dipaparkan di atas bila dicermati seakan-akan wanita hanya diperuntukkan memberi kepuasan kepada pria, segala sikap dan perilakunya didominasi untuk kebutuhan pria. Hak dan kekuasaan wanita untuk menentukan cara hidup dan mencari peluang untuk meningkatkan pemikirannya tidak ada. Oleh karena itu kesepuluh padan kata tentang wanita tersebut sebaiknya dimaknai sebagai sebagian tugas wanita atau istri kepada suaminya saja. Artinya, selain itu masih ada tugas dan/atau pertanggungjawaban yang harus dilakukan oleh wanita sebagai anggota masyarakat maupun warga negara, seperti pemikiran untuk menuju kehidupan yang lebih baik tanpa memandang perbedaan jenis.

Asumsi Nilai Nistha, Madya, dan Utama terhadap Wanita dalam Budaya Jawa
Asumsi tentang nilai nistha, madya, dan utama terhadap wanita berkaitan erat dengan idealisme wanita yang sempurna dalam persepsi budaya Jawa, baik dari sudut pandang citra fisik maupun moral dan etika. Nistha merupakan klasifikasi nilai buruk atau hina, madya berkaitan erat dengan klasifikasi biasa atau sedang-sedang saja, sedangkan utama ber¬oreintasi pada asumsi nilai keluhuran yang harus dimiliki oleh wanita.

Klasifikasi nilai dalam konteks sosial tersebut merupakan gejala diskriminasi gender yang memperlakukan wanita sebagai objek penilaian atau sebagai subordinat dari laki-laki. Laki-laki berhak memilih wanita sesuai dengan kepentingan politisnya, melegitimasi status dan perannya sebagai titik ordinat yang menguasai subordinat. Dalam persepsi kulturalnya masyarakat Jawa memposisikan wanita sebagai subordinat.

Konsep dan idealisme nilai kecantikan wanita dalam budaya Jawa tercermin dalam unsur fisik. Dalam kategori ini wanita dipilahkan dalam kelompok: wanita cantik bertabiat baik, wanita cantik bertabiat buruk, wanita buruk bertabiat baik, dan wanita buruk bertabiat buruk. Secara mendasar gagasan tersebut setara dengan apa yang dituliskan oleh Anthony Synnott sebagai berikut.
Wajah adalah tempat pertemuan empat indera kita penglihatan, citra rasa, pembauan dan pendengaran dan jalan masuk bagi makanan dan minuman, dan udara. Ia juga menjadi sumber komunikasi non-verbal. Gloria Swanson pernah mengatakan: “kita tidak perlu berdialog karena kita telah memiliki wajah,” selain itu wajah juga menjadi penentu dasar bagi persepsi mengenai kecantikan atau kejelekan individu, dan semua persepsi ini secara langsung membuka penghargaan diri dan kesempatan hidup kita. Wajah menyimbolkan diri yang berbeda (Synnot, 2003:135).

Kutipan tersebut memberikan gambaran yang jelas bahwa tubuh dan bentuk tubuh merupakan bahasa yang jujur dalam mencitrakan karakter atau perwatakan; tubuh adalah citra dari psikis. Dalam budaya Jawa kategori kecantikan secara fisik disebut dengan istilah katuranggan. Hal ini membangun image tentang mitos wanita Jawa, atau setidak-tidaknya membangun persepsi tentang bagaimana wanita yang baik, mulia, atau kategori wanita nakal dan tidak baik untuk laki-laki.

Katuranggan tersebut memberikan gambaran hegemoni terhadap perempuan; artinya, perempuan selalu disubordinatkan dan dimarginal¬kan melalui identifikasi seksualitas, bentuk fisik, dan spesifikasi fungsi dan peran sosialnya dalam kehidupan sehari-hari. Pembuatan kriteria melalui kisah legenda, primbon, dan mitos pada hakikatnya menyudutkan wanita sebagai objek dari wacana seksualitas. Pandangan tentang wanita diwacanakan sebagai kaum yang dikuasai, dieksploitasi oleh laki-laki yang secara politis dibedakan fungsinya secara genetis, biologis, dan sosiologis baik dari sudut pandang materiel maupun spirtitual.

Kehidupan masyarakat Jawa secara kultural, pola perlakuan dan pemikiran tentang wanita dan kewanitaannya tercermin dalam kriteria yang telah dibakukan sebagai idealisme paten. Idealisme wanita yang baik dalam budaya Jawa digambarkan melalui ciri-ciri fisik, yaitu dari sisi bentuk tubuh, anggota tubuh, dan warna kulit. Pembagian tipologi wanita secara umum dibagi berdasarkan gagasan kultural dari pemikiran yang bersifat mistik sampai dengan pemikiran yang berakar pada realitas akal sehat. Hal tersebut menjadi akar pendisiplinan tubuh yang meng¬arah pada pembagian peran yang didasarkan pada perbedaan seksualitas (laki-laki dan perempuan). Ada pembagian mendasar tentang wilayah-wilayah profesi yang hanya dilakukan oleh perempuan atau laki-laki yang saling dilawankan secara berpasangan. Keyakinan umum mengatakan bahwa ciri sifat dan peran yang dianggap sesuai untuk laki-laki adalah ciri sifat dan peran-peran maskulin, sedangkan untuk wanita dianggap lebih pas untuk peran-peran dan ciri sifat feminim.

Persepsi nilai wanita secara mendasar yang didasarkan klasifikasi nistha, madya, dan utama akhirnya menjadi mitos yang menghegemoni masyarakat Jawa dalam menentukan citra dan nilai wanita. Sudah barang tentu ini berkaitan erat dengan wanita sebagai pasangan hidup mem¬bangun rumah tangga, meneruskan keturunan, sehingga juga dihadapkan pada kriteria bobot, bibit, dan bebet yang berkaitan erat dengan status sosial wanita di tengah-tengah lingkungan sosial ekonominya.
Terbitnya berbagai primbon tentang wanita mempertajam asumsi bahwa wanita dalam budaya Jawa diposisikan sebagai objek, yang secara bebas diklasifikasikan semena-mena berdasarkan kepentingan budaya politisnya, baik dari sisi mitologi, biologis, maupun sosiologis. Figur wanita dalam budaya Jawa seolah-olah tidak memiliki kemerdekaan untuk menentukan nilainya sendiri dalam kehidupan sosial budaya. Dari berbagai primbon yang didapatkan, tidak satu pun yang mengklasifikasi¬kan wanita sebagai insan yang merdeka setara dengan kaum laki-laki.
Gagasan tipologi wanita secara umum terungkap pada buku primbon, karya sastra, dan dalam berbagai penuturan lisan. Paparan dalam Primbon Betaljemur Adam Makna, dapat dicermati dalam penjelasan Tabel 1 sebagai berikut.

Kondisi Fisik
1. Kulit hitam, berbadan besar, berrambut lembut. Wanita yang baik hati.
2. Kulit hitam, bermuka panjang, kaki kecil. Bisa mendatangkan rejeki/kekayaan tetapi kalau marah pergi meninggal¬kan rumah.
3. Kulit kuning, muka sempit, bibir kecil dan kering. Bersahaja dan lapang dada, setia dan berbakti kepada suami, penuh dengan inisiatif.
4. Kulit kuning tampak hijau ototnya, sinom (rambut di atas dahi) berombak, mata sayu, cantik. Berbicara sopan, halus dan lembut, pandai menyimpan sesuatu yang dimiliki, pandai mengatur, banyak inisiatif, berbakti pada suami, dan kuat dimadu.
5. Kulit putih, banyak bicara, agak kaku rambutnya. Banyak mendatangkan rejeki, mendapat rahmat dari Tuhan, rajin beribadah.
6. Kulit merah agak hijau, badan kecil tetapi bersahaja geraknya, rambut agak panjang berwarna agak kehijauan. Pandai di dapur, pandai di tempat tidur, setia pada suami, luhur budinya.
7. Kulit merah, muka agak hijau, pandangan mata indah. Terampil dan sangat sayang kepada suami.
8. Perut kecil dan rata, kulit halus dan lembut, rambut hitam dan banyak. Mampu menerima apa saja yang disampaikan oleh suami.
9. Berbadan tinggi, mata sipit, berbicara luwes. Bisa menyelesaikan kewajiban dan pandai menyimpan rahasia.
10. Dada lapang, muka panjang, rambut hitam dan lembut. Banyak rejeki tetapi kalau marah suka pergi dari rumah.
11. Badan bersahaja serba sesuai ukuran wanita, pendiam/ tidak banyak bicara. Setia dan berbakti kepada suami, suka menyendiri, tetapi kalau marah suka pulang ke rumah orang tuanya.
12. Badan tinggi, kulit kuning, mata sipit, pandangan tampak agak keras. Bekerja dengan hati-hati, teliti, rajin, dan bila di kasur nikmat rasanya.

Tabel 1. Tipologi wanita yang baik dalam pandangan budaya Jawa (Harianto Soembogo, 1993:98–99).

Berdasarkan perilakunya, wanita yang baik dan memiliki keber¬untungan dapat dibaca dalam paparan Tabel 2 sebagai berikut.

Bagian Tubuh
1. Kepala Bulat bagaikan bulan purnama tanggal 14, dahi rata.
2. Mata Lebar/panjang bersahaja dan bersinar gemerlap, bila memandang tajam tak berkedip, dan tidak pernah memandang dengan cara melirik.
3. Alis Panjang tak berkelok, bulu teratur.
4. Hidung Mancung, garis hidung di kanan dan kiri sangat tampak.
5. Mulut Ukuran sedang, bibir tertutup berwarna merah muda. Gigi putih, gilap, dan rapi bagaikan biji mentimun.
6. Telinga Tebal, bentuknya bagus.
7. Dagu Bentuknya bagus, bagian bawah tampak tebal.
8. Pipi Rata, tidak menggembung.
9. Tangan Telapak tebal, halus dan lembut jika dipegang terasa lebih lembut bagai sutra. Jari-jari kecil indah, agak kaku, dan tebal kukunya
10. Kaki Telapak kaki bentuknya bagus, demikian juga jari-jarinya tebal, halus, dan kukunya tebal.
11. Dada Lebar, dagingnya agak tebal.
12. Tulang dan kulit Kekar, halus, lembut, dan kenyal.
13. Mulut Bicara pelan, jelas, tegas bersahaja, tidak suka membicarakan orang, suara halus.
14. Mulut Jika tersenyum badan tidak sampai bergerak
15. Posisi duduk Kaki tertata rapi, bila bersila juga rapi, tangan tidak banyak bergerak.
16. Posisi berjalan Berjalan tenang, gerak tangan sedikit, badan tidak bergerak, tidak banyak menoleh, pandang¬an ke arah jalan yang dituju.

Tabel 2. Perilaku wanita yang baik menurut konsep budaya Jawa (Harianto Soembogo, 1993:101–102).
Di samping asumsi fisik yang mencirikan wanita bertabiat baik, dalam primbon juga disebutkan kelompok wanita yang menandakan keberuntungan, dikelompokkan sebagai berikut.
No. BAGIAN TUBUH KETERANGAN
1. Muka Bidang dan urat tampak kebiruan.
2. Mata Bersinar, bola mata hitam bagai dicat.
3. Gigi Putih bagaikan batu putih.
4. Mulut Bila berbicara susah berhenti, suka menyem-bunyikan muka, sebelum berbicara tertawa dulu, bicaranya terpenggal-penggal.
5. Kaki Jika berjalan badannya ikut bergerak.
6. Kaki Jika berdiri lutut ditekuk hingga menonjol.
7. Tangan Suka membenahi busana yang dipakai.
8. Kepala Suka membalik/menengok untuk melihat dengan cara melirik seperti mengintip.
9. Bulu Di bawah pusar terdapat bulu-bulu panjang dan lebat.

Tabel 3. Tipe wanita yang memiliki banyak rejeki menurut konsep budaya Jawa (Harianto Soembogo, 1993:102).
Wanita seperti disebut dalam Tabel 3 mempunyai banyak rejeki dan pandai menyimpan, tetapi memiliki watak tidak tetap (plin-plan) serta kesetiaannya kepada suami tidak bisa dipercaya.

Nilai-Nilai Kewanitaan Jawa
Idealisme wanita dalam budaya Jawa tercermin melalui ungkapan nilai yang diharapkan melekat pada jatidiri wanita, baik sebagai istri, ibu rumah tangga, maupun sebagai wanita karier yang mendampingi suami. Konsep dan pemikiran nilai-nilai tersebut berakar pada peran wanita di tengah kehidupan sosial yang menuntut peran wanita “setara” dengan peran laki-laki. Hal ini menyangkut pendisiplinan tubuh dan mental melalui nilai-nilai kewanitan baik secara fisik maupun mental. Secara psikologis wanita dihadapkan pada tuntutan kerja superior.

Wanita sebagai istri diharapkan memiliki nilai: setya, bekti, mituhu, dan mitayani.
1. Setya
Salah satu kriteria ideal wanita Jawa adalah sifat setia yang harus ada, terutama kesetiaan kepada suami. Wanita Jawa yang ideal adalah wanita yang menganggap suami bukan semata-mata menjadi suaminya ketika hidup di dunia, tetapi juga di akhirat kelak. Tercermin ungkapan Jawa yang jelas menyebutkan kesetiaan sosok wanita terhadap suaminya adalah swarga nunut neraka katut (mengikuti ke surga maupun ke neraka).
Wanita Jawa selalu setia kepada pasangannya dalam kondisi kehidupan yang bagaimanapun, baik dalam kondisi hidup penuh ke¬susahan dan terlebih dalam kondisi yang serba menyenangkan. Di¬gambarkan secara jelas sikap setia wanita Jawa melalui ungkapan: urip rekasa gelem, mukti uga bisa; sabaya mukti sabaya pati (hidup dalam kesusahan bersedia, hidup makmur pun bisa; sehidup semati dalam suka maupun duka).
Kesetiaan wanita Jawa ideal terhadap pasangannya semakin jelas terlihat ketika suaminya meninggal dunia terlebih dahulu. Dalam kondisi demikian, wanita Jawa yang ideal akan turut ‘mati’ bersama suaminya; dalam arti mati keinginannya atau tidak punya keinginan untuk berumah tangga lagi dengan lelaki lain, ia harus tetap menjanda hingga akhir hayatnya untuk kemudian bersama-sama dengan suaminya menuju alam akhirat.

2. Bekti
Wanita Jawa dalam prosesi pernikahan melakukan upacara mijiki, yakni membasuh serta mengelap kedua kaki suaminya. Ini merupakan simbol atau perlambang yang nyata, bahwa wanita akan senantiasa bekti mring kakung (berbaki kepada suaminya) dalam berumah tangga.
Sikap bekti ini mempunyai makna dan penjabaran yang sangat luas. Satu di antaranya adalah sikap sang wanita untuk senantiasa menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Ia tidak akan membiarkan atau bahkan bersedia melakukan perbuatan tercela yang pasti akan meruntuhkan harga diri dan kehormatannya. Perzinahan atau juga perselingkuhan akan senantiasa dijauhi oleh wanita Jawa yang berusaha menjadi wanita ideal, karena tindakan itu nyata-nyata merusak bekti-nya kepada suami.

3. Mituhu
Mituhu bermakna setia, atau menurut (Prawiroatmojo, 1985:367). Mituhu dapat diartikan mau memperhatikan dan juga meyakini akan kebenaran ‘didikan’ suaminya. Wanita harus memiliki sikap mituhu, agar cinta dan kasih sayang suaminnya senantiasa tercurah kepadannya. Wanita yang mituhu akan mengedepankan kesetiaan kepada suami dan juga menjalankan segala perintah suaminya, selama perintah itu mengandung nilai kebenaran. Jika perintah tersebut tidak bernilai kebenaran, wanita dapat menolaknya dengan mengemuka¬kan alasan yang baik sehingga kondisi harmonis keluarga tetap dapat dipertahankan.

4. Mitayani
Mitayani bermakna dapat dipercaya. Untuk dapat bersikap mitayani, terlebih dahulu seorang wanita harus bersih dan jujur serta terbebas dari kesalahan yang fatal. Seorang wanita yang tidak bersih dan tidak jujur dapat melunturkan kepercayaan suami kepadanya, terlebih jika sang wanita pernah melakukan kesalahan yang fatal. Sebuah keluarga dibangun oleh beberapa fondasi, salah satunya yang sangat penting adalah rasa percaya–mempercayai di antara suami–istri. Juga agar suaminya dapat lebih tenang dalam bekerja, sang istri harus bersikap mitayani, karena dengan demikian kepercayaan yang diberikan oleh suami kepadanya dapat dijalankan dengan baik.

Wanita sebagai istri, juga dianggap sebagai sigaraning nyawa (belahan jiwa) suami. Dalam Serat Darmagandhul dijelaskan bahwa istri sebagai sosok pendamping suami, dituntut untuk senantiasa setia serta menjalani tiga hal yakni: pawon, paturon, dan pangreksa. Ketiga hal ini dapat dijabarkan sebagai berikut.
1. Pawon
Pawon berarti dapur. Makna luasnya, sebagai pendamping suami, seorang wanita dituntut pintar memasak atau mengolah hidangan untuk makanan keluargannya. Meskipun secara naluri wanita menggemari kegiatan ‘dapur’ ini, namun wanita tetap dituntut untuk senantiasa menambah wawasan dan pengetahuannya agar dapat tampil piawai selaku ‘koki’ keluargannya. Penambahan wawasan tersebut diperoleh dari berbagai majalah atau buletin yang membahas masalah masak-memasak atau juga dapat diperoleh dari berbagai tayangan di televisi yang menyajikan program acara masalah ‘dapur’. Kepandaian wanita dalam memasak akan membuat suami serta anak-anaknya kerasan berada di rumah, dan ini merupakan keuntungan tersendiri bagi pengelolaan keuangan rumah tanggan karena tidak ada kebiasaan makan di luar rumah bagi suami maupun anggota keluarganya yang lain. Di samping itu seorang istri yang mampu memuaskan ‘perut’ suaminya akan mendapat pujian serta kebanggaan dari suami.

2. Paturon
Paturon berarti tempat tidur. Makna luasnya adalah dituntutnya seorang istri piawai beradu asmara dengan suaminya di atas ranjang. Masalah hubungan badan ini merupakan masalah yang paling sensitif dari sebuah rumah tangga. Seringkali dalam rumah tangga terjadi perselisihan yang berakibat perceraian karena masalah ‘tempat tidur’. Perselingkuhan serta perzinahan yang terjadi dalam sebuah rumah tangga lebih banyak disebabkan oleh faktor ‘ranjang’; suami atau istri tidak mampu memberikan pelayanan yang memuaskan kepada pasangannya, sehingga pasangan berusaha mencari kepuasan di luar rumah. Dampak negatif dari tindakan perselingkuhan atau perzinahan ini misalnya ter¬jangkitnya penyakit kelamin yang mengerikan, lahirnya anak ‘gelap’ akibat hubungan di luar nikah, dan hal-hal mengerikan lainnya yang jelas-jelas mengancam keutuhan dan keharmonisan rumah tangga.

3. Pangreksa
Pangreksa berarti penjaga. Makna luasnya, wanita dituntut untuk dapat mengelola rumah tangganya dengan sistem pengelolaan yang baik dan benar serta melayani kebutuhan suaminnya dengan sebaik-baiknya. Seorang suami yang menghadapi ketidakbenaran sistem pengelolaan rumah tangga serta tidak mendapat pelayanan yang memuaskan dari sang istri, seringkali berusaha mendapatkannya di luar rumah. Permasalahan menjadi semakin meruncing ketika suami akhirnya justru mendapatkan apa yang dicarinnya pada sosok wanita lain.
Wanita sebagai ibu rumah tangga secara kejiwaan diidealkan memiliki sifat mulia, yang berakar pada nilai gemi, nastiti, dan ngati-ati. Dalam budaya Jawa istilah ini berkaitan erat dengan tata nilai kehidupan sehari-hari wanita Jawa. Secara harfiah, gemi mengandung pengertian afektif rasa memiliki; nastiti memiliki arti cermat dan teliti; dan ngati-ati berarti mempunyai sikap hati-hati. Nastiti memiliki makna berhati-hati sekali. Sikap nastiti ini berhubungan erat dengan penggunaan harta benda. Untuk mampu bersikap nastiti, dituntut bersifat jujur, dapat dipercaya. Seorang wanita dalam hal menggunakan harta benda keluarganya, dituntut bersikap hati-hati. Pengeluaran uang hendaklah sesuai dengan ‘keputusan’ keluarganya, sehingga ia dapat memper-tanggungjawabkan ketika suami memintanya. Sebab, wanita yang mempergunakan harta bendanya tanpa kontrol, akan melunturkan ke¬percayaan suami dan kondisi ini akan berakibat menggoyahkan kondisi rumah tangga.
Istilah tersebut dalam konteks norma yang lebih dogmatis menjadi slogan yang secara politis membangun mitos wanita Jawa yang menjaga kautamaning wanita. Dalam tafsir yang lebih praktis, nilai gemi, nastiti, ngati-ati berkaitan erat dengan peran wanita sebagai ibu rumah tangga yang harus mengelola pendapatan keluarga, dalam hal ini wanita memegang peran sebagai ekonom dalam keluarga. Wanita cerdik mengatur keuangan keluarganya, tidak boros tetapi juga tidak terlalu ketat. Ia mampu memilah dan memilih kebutuhan pokok keluarganya yang harus diadakannya dan menghindari hal-hal yang tidak terlalu diperlukan keluarganya. Wanita yang gemi, nastiti, ngati-ati oleh Thoyibi ditafsirkan sebagai wanita yang memiliki sikap hemat cermat dalam mengatur lalu-lintas ekonomi keluarga (1989:15).
Konsep gemi, ngati-ati, nastiti diterjemahkan oleh Marwanto sebagai berikut. “Gemi: becik pangrumat marang darbèké; Ngati-ati: pinter nata butuhing pedinan; Nastiti: kudu nggatèkaké samubarang.” Artinya, gemi adalah sikap hemat dan cermat dalam mengatur lalu-lintas ekonomi keluarga. Nastiti berarti bersikap hati-hati, cermat, dan penuh perhatian dalam mengambil setiap tindakan. Ngati-ati bermakna berhati-hati; sikap ngati-ati ini berhubungan erat dengan pikiran atau perasaan untuk meng¬hindari sesuatu yang berisiko buruk. Dalam hal kegiatan atau tindakan apa pun juga diperlukan berhati-hati. Kecerobohan, keteledoran, dan ketidakpedulian yang biasannya akan mendatangkan bahaya, berlawanan dengan sikap ngati-ati sehingga sudah pada tempatnya untuk dihindari (Murwanto 1977:117).
Sisi lain sebagai seorang istri, wanita juga diidealkan memiliki sifat-sifat yang mencerminkan nilai narima. Narima berarti menerima dengan bersyukur, ikhlas, dan telah merasa puas. Sifat ini pula yang menjadi salah satu kriteria wanita Jawa yang ideal. Karena telah merasa bahwa suaminya adalah pasangan abadinya, baik di dunia maupun di akhirat kelak, ditambah dengan kesetiaannya yang terpuji hingga ‘berikrar’ sepenuh hati untuk sehidup semati dalam suka maupun duka (sabaya mukti sabaya pati). Oleh karena itu wanita Jawa menerima dengan ikhlas apa pun pemberian suaminya. Dengan sikap narima dan setia, wanita Jawa yang ideal mampu hidup dalam kondisi apa pun. Ia dapat ber¬adaptasi dalam suasana dan kondisi yang serba menggembirakan atau¬pun dalam kondisi yang serba susah.
Sesungguhnya wanita Jawa bukan berperan laksana sahabat di belakang (kanca wingking) di dalam rumah tangganya sendiri. Dapat diibaratkan bahwa wanita adalah ratu yang bertahta dengan segala kemuliaannya di dalam rumah tangganya. Dengan menjabat sebagai ‘ratu’ ia ber¬tanggung jawab penuh atas masalah yang terjadi di dalam ‘kerajaannya’, serta mengurus dan melayani ‘raja’ berikut seluruh warga ‘kerajaan¬nya’ dengan sebaik-baiknya. Selaku ratu, sudah selayaknya jika ia menjadi ratu idaman, dan untuk menjadi ratu idaman ini Serat Yadnyasusila menjelaskan tiga sikap yang harus terdapat padanya yaitu: gemati, merak ati, dan luluh.

1. Gemati
Gemati artinya mampu dan pintar memelihara atau menyelenggara¬kan segala sesuatu dengan baik. Sebagai wanita idaman, sikap wanita ini begitu menawan karena ia pintar menjalankan perannya selaku ‘ratu’ rumah tangganya. Selaku istri, ia melimpahkan cinta dan kasih sayang¬nya kepada suami hingga amat terkesan ia pintar merawat dan menjaga pasangan hidupnya tersebut. Dengan naluri serta perasaan keibuannya, ia pintar mengasuh, merawat, dan mendidik anak-anaknya. Begitu pula dengan hal-hal lain yang berhubungan dengan masalah rumah tangganya dapat dipelihara dengan baik dan ia akan senantiasa siap untuk mem¬benahi segala sesuatu di dalam rumah tangganya yang dirasakan kurang atau belum selesai.

2. Merak ati
Wanita yang bersikap merak ati adalah wanita yang ngadi warna, yakni pintar bersolek atau berdandan hingga terkesan ia pintar merawat dan menjaga kecantikannya; tidak hanya kecantikan lahir tetapi juga kecantikan batinnya. Wajahnya senantiasa terlihat cerah ceria dengan senyum manis tersungging di bibirnya. Ia juga pintar berdandan dengan mengenakan pakaian yang pantas dan serasi dengannya (ngadi busana), luwes gerak-geriknya (lumampah anut wirama), manis dan sopan tutur katanya. Wanita seperti itu adalah wanita idaman yang jika ‘bertahta’ dalam rumah tangganya selaku ‘ratu’, semua warga keluargannya akan merasa senang, mantap, dan dekat dengannya. Tidak hanya terbatas di lingkungan keluargannya, masyarakat di sekitarnya pun akan merasa senang menatap pesona keindahan yang dipancarkannya.

3. Luluh
Luluh bermakna sabar atau mudah bersabar hati. Wanita idaman yang bersikap luluh ditunjukkan oleh perilakunya yang penyabar, tidak keras kepala, serta menerima segala sesuatu dengan hati yang lapang (jembar, sabar, lan narima). Dengan sikap luluh-nya, wanita akan mampu mengelola rumah tangganya dengan baik, sehingga membuat suami serta anak-anaknya merasa tenteram dan tenang di dalam rumah tangganya. Wanita yang luluh sikapnya, harus mampu momong, momor, dan momot.

a. Momong. Kata ini bermakna mengasuh, merawat, dan menjaga segala sesuatu hingga dapat tumbuh berkembang sesuai dengan yang diharapkan. Untuk dapat melaksanakan tugas momong dengan baik, wanita harus senantiasa mengasah dan menambah pengetahuan yang dimilikinya. Dengan bekal tambahan pengetahuan dan keterampilan yang terus-menerus diupayakan untuk ditambah, wanita akan mampu menjalankan perannya sekaligus menunjukkan kualitas kewanitaannya selaku wanita idaman.

b. Momor. Kata ini berarti bergaul atau berkumpul. Wanita idaman akan mampu bergaul dengan lingkungan sekitarnya dengan baik. Ia dapat menempatkan dirinya dengan baik di tengah-tengah lingkungan¬nya yang berbeda-beda. Ia juga dapat menjaga jarak untuk tidak terjebak dalam pergaulan yang kurang baik, dan lingkungan sekitarnya akan merasa senang dapat bergaul dengannya.

c. Momot. Kata ini bermakna dapat mengerti, memahami, dapat menyimpan rahasia, tidak mudah marah, dan tabah. Laksana lautan, hati wanita ini begitu luas lagi lapang, sehingga ia mampu menerima segala sesuatu yang datang kepadanya, dicoba untuk diketahuinya, kemudian disimpannya rapat-rapat sehingga segala persoalan, termasuk rahasia dan aib, aman bersamanya. Ia tidak suka membuka rahasia atau aib pihak lain yang diketahuinya dan tidak suka mengorek-ngorek rahasia maupun aib orang. Sikap sabar dan tabahnya demikian mengemuka dan begitu pula dengan kepintarannya menyimpan rahasia sehingga keluarga dan lingkungannya menaruh kepercayaan yang tinggi kepadanya.
Wanita karier sebagai pendamping suami yang bekerja dalam kehidupan sosial masyarakat, wanita diidealkan memiliki sifat yang berorentasi pada nilai mikul dhuwur mendhem jero, tatas, titi-titis, dan tetes. Secara rinci jabaran nilai-nilai tersebut dijelaskan sebagai berikut.

1. Mikul Dhuwur Mendhem Jero
Konsep mikul dhuwur mendhem jero biasannya diartikan untuk men¬jujung derajat orang tua, meski sebenarnya dapat diperluas yaitu men¬junjung derajat suami dan keluarganya. Terhadap suami dan keluarga¬nya, wanita hendaknya bersikap mikul dhuwur (memikul tinggi-tinggi) nama baik dan kehormatan suami serta keluargannya dan mampu mendhem jero (mengubur dalam-dalam) keburukan maupun kekurangan yang terdapat dalam diri suami dan keluarganya. Perpaduan sikap ini sangat serasi jika terjadi pada diri seorang wanita, yang karenanya ia akan mampu menyimpan rapat-rapat rahasia, aib, kekurangan, dan keburukan yang terjadi pada suami atau keluarganya, serta mampu mengangkat nama baik atau kehormatan suami dan keluargannya. Sikap mikul dhuwur mendhem jero bukan sikap yang menunjukkan keangkuhan atau ke¬sombongan, melainkan sikap terpuji yang mampu memunculkan segala kebaikan suami dan keluargannya, serta di lain pihak mampu mengubur dalam-dalam segala keburukan atau kekurangan suami dan keluarganya. Membuka aib, rahasia, dan keburukan suaminya sendiri, sesungguhnya membuka segala aib, rahasia, dan keburukan yang terdapat pada dirinya sendiri. Sikap ini jelas-jelas menunjukkan ‘kualitas’ yang tidak baik dari seorang istri.

2. Tatas
Istilah tatas sangat dekat dengan pengertian putus, selesai, tuntas. Dalam pengertian yang lebih luas, tatas diartikan sebagai tindakan yang mrantasi gawé, yaitu menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan sempurna. Dalam konteks ini seorang wanita memilki sikap tegas, cukat, trengginas, dan trampil, yaitu bertindak cepat, bersemangat, dan memiliki keteram¬pilan yang memadai. Hal yang sama diutarakan oleh Sardono Wibakso bahwa tatas adalah mampu menyelesaikan masalah secara tuntas, tidak mindho-gawèni atau tidak ada pengulangan (wawancara, 5 Desember 2005).

3. Titi-Titis
Titi bermakna teliti, jeli, dan cermat. Ketelitian sesungguhnya sangat diperlukan dalam segala aktivitas atau kegiatan. Seseorang yang bersikap teliti, jeli, dan cermat dalam mengelola rumah tangganya akan ber¬pengaruh terhadap kedamaian dan ketenteraman dalam rumah tangga. Suami akan merasa bahagia jika rumah tangganya berjalan sukses sebagai akibat dari sikap seorang wanita yang teliti, jeli, dan cermat.
Titis bermakna tepat mengenai sasarannya. Artinya, wanita yang titis berarti dapat mengelola rumah tangganya dengan efektif dan efisien sesuai yang diharapkan. Untuk dapat bersikap titis ini diperlukan pe¬ngetahuan, ketabahan, keuletan, kesabaran, dan ketelitian. Seorang pemanah disebut titis jika busur anak panahnya senantiasa tepat mengenai sasaran. Hal ini diperlukan latihan serta pengetahuan yang mendalam tentang seluk-beluk ‘perpanahan’ serta harus ditekuninya dengan tabah, ulet, sabar, dan teliti. Hasil akhir yang diraihnya adalah gelar pemanah yang titis, di mana anak-anak panah yang dilepaskannya senantiasa tepat mengenai sasaran sesuai dengan yang diinginkan. Demikian halnya seorang istri yang bersikap titis akan sangat membantu suaminya yang secara bersama-sama menuju sasaran yang tepat dalam berumah tangga yang telah dicanangkan dan disepakati berdua.

4. Tetes
Istilah tetes sangat dekat dengan istilah netes, artinya menghasilkan. Makna mendalam dari pengertian tetes berkaitan erat dengan dua peran wanita, yakni sebagai penerus keturunan dan sebagai ekonom dalam rumah tangga. Seorang wanita yang subur akan memberikan keturunan yang sehat dan sempurna lahir–batin; sebagai ekonom yang mengendali¬kan kebutuhan rumah tangga harus dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi keluarganya. Misalnya mulai dari menyediakan makanan sampai dengan urusan yang paling signifikan yaitu membangun cita-cita keluarga yang sakinah, mawadah, warrohmah (bahagia dalam limpaham cinta dan kasih sayang serta dalam limpahan rahmat Tuhan Yang Maha Esa).
Urusan keluarga mengelola pendapatan suami diubah menjadi barang yang diinginkan oleh anak, suami, dan anggota keluarga yang lain. Tentu saja hal ini sangat berat, membutuhkan keuletan, yang dalam konsep budaya Jawa disebut rigen, tegen, dan mugen. Istilah ini meng¬gambarkan bahwa wanita sebagai ibu rumah tangga dan wanita karier pendamping suami harus memiliki daya kreatif, dapat menguasai ke¬adaan melalui penguasaan dirinya sendiri, pengendalian situasi dan kondisi keluarga, serta ulet dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan keluarga.
Hilmiyah Darmawan dalam ceramah peringatan HUT IWARI, HKSN dan Hari Ibu, tanggal 23 Desember 1997 di Uni¬versitas Slamet Riyadi Surakarta, memberikan penjelasan tentang nila-nilai wanita Jawa meliputi:
1. Eling lan waspada. Artinya, selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa dan waspada terhadap lingkungan yang kurang baik maupun gejolak yang berasal dari dalam diri pribadi.
2. Rigen: cakap pandai mengatur. Tegen: taat dan tekun bekerja serta tidak berhenti bekerja sebelum tuntas, selesai; tidak menyeleweng dalam menggunakan waktu dan kesempatan. Mugen: setia kepada suami dan membenci penyelewengan.
3. Gemi: pandai menyimpan uang dan tidak boros dalam meng¬gunakannya. Nastiti: merencanakan pekerjaan dengan teliti, jangan sampai merugikan diri sendiri maupun orang lain. Ngati-ati: di dalam hati selalu teliti dan tidak terburu-buru baik dalam ucapan ataupun tindakan.
4. Gumati: tulus ikhlas disertai rasa senang dalam mengelola dan memelihara yang menjadi tanggung jawabnya. Mangerti: tanggap, pandai menyesuaikan diri dengan suasana dan situasi. Susila: sopan santun, tidak sombong dan semena-mena. Prigel: terampil dan siap mengerjakan apa saja yang ditugaskan dengan sebaik-baiknya.

E. Kesimpulan
Wanita Jawa bukan berperan laksana sahabat di belakang (kanca wingking) di dalam rumah tangganya sendiri. Dapat diibaratkan bahwa wanita adalah ratu yang bertahta dengan segala kemuliaannya di dalam rumah tangganya. Dengan menjabat sebagai ‘ratu’ ia ber¬tanggung jawab penuh atas masalah yang terjadi di dalam ‘kerajaannya’, serta mengurus dan melayani ‘raja’ berikut seluruh warga ‘kerajaan¬nya’ dengan sebaik-baiknya. Selaku ratu, sudah selayaknya jika ia menjadi ratu idaman, dan untuk menjadi ratu idaman ini Serat Yadnyasusila menjelaskan tiga sikap yang harus terdapat padanya yaitu: gemati, merak ati, dan luluh.
Wanita sebagai ibu rumah tangga secara kejiwaan diidealkan memiliki sifat mulia, yang berakar pada nilai gemi, nastiti, dan ngati-ati. Dalam budaya Jawa istilah ini berkaitan erat dengan tata nilai kehidupan sehari-hari wanita Jawa. Secara harfiah, gemi mengandung pengertian afektif rasa memiliki; nastiti memiliki arti cermat dan teliti; dan ngati-ati berarti mempunyai sikap hati-hati. Nastiti memiliki makna berhati-hati sekali. Sikap nastiti ini berhubungan erat dengan penggunaan harta benda. Untuk mampu bersikap nastiti, dituntut bersifat jujur, dapat dipercaya. Seorang wanita dalam hal menggunakan harta benda keluarganya, dituntut bersikap hati-hati. Pengeluaran uang hendaklah sesuai dengan ‘keputusan’ keluarganya, sehingga ia dapat memper-tanggungjawabkan ketika suami memintanya. Sebab, wanita yang mempergunakan harta bendanya tanpa kontrol, akan melunturkan ke¬percayaan suami dan kondisi ini akan berakibat menggoyahkan kondisi rumah tangga.


DAFTAR PUSTAKA

Ahimsa-Putra, Heddy Shri. 2002. Tanda, Simbol, Budaya dan Ilmu Budaya. Dialog Ilmiah Unit Pengkajian dan Pengembangan Budaya.Yogyakarta. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Amangkunegara III, K.G.P.A.A. 1986. Serat Centhini. Jilid III. Dilatinkan oleh Kamajaya. Yogyakarta: Yayasan Centhini.

Basuki, Agus Rinto. 2005. Perempuan (di mata Budaya Jawa). Bende Media Informasi Seni dan Budaya. Surabaya: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur.

Brata Siswara, Harmanta. 2000. Bauwarna Adat Tata Cara Jawa. Jakarta: Yayasan Suryasumirat.

Darmawan, Hilmiyah. 1997. “Perkembangan Wanita dari Zaman ke Zaman.” Makalah Peringatan HUT IWASRI, HKSN dan Hari Ibu di Universitas Slamet Riyadi Surakarta.

Endraswara, Suwardi. 2003. Budi Pekerti dalam Budaya Jawa. Jakarta: Hanindita.

Hamengku Buwana X, Sri Sultan. 2005. “Tuntunan dan Tatanan dalam Tontonan Wayang,” makalah Pembukaan Kongres Pewayangan 2005 di Pagelaran Keraton Yogyakarta.

Handayani, Christina S. 2004. Kuasa Wanita Jawa. Yogyakarta: LKIS.

Hanifah, Nur. 1998. “Kontekstualisasi Gerakan Perempuan,” dalam Solopos, tanggal 21 April 1998.

Harianto Soembogo, Wibatsu. 1993. Kitab Primbon Betaljemur Adammakna. Yogyakarta: Soemodidjojo Mahadewa.

Hilmijah, R.Ay. dan M. Thoyibi. 1989. Peranan Wanita Jawa Abad ke-18 dalam Visi Mangkunegoro I. Surakarta.

Magnis-Suseno, Franz. 1984. Etika Jawa, Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijakan Hidup Jawa. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Mahmudah. 2001. “Citra Perempuan dalam Media Massa,” dalam Ed. Sumijati AS, Manusia dan Dinamika Budaya, Dari Kekerasan sampai Baratayuda. Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM bekerja sama dengan BIGRAF Publishing.

Mangunwijaya, Y.B. 1988. Wastu Citra. Jakarta: PT. Gramedia.

Mardiwarsita, R. 1978. Kamus Jawa Kuna-Indonesia. Jakarta: Nusa Indah.

Marwanto. 1992. Wejangan, Wewarah, Bantah, Cangkriman, Piwulangan Kaprajan. Jilid I. Sukoharjo: Cendrawasih.

Mulyono, Sri. 1983. Wayang dan Karakter Manusia. Jakarta: Gunung Agung.

Murdiyati, J. 2004. “Srikandhi Simbol Pahlawan Wanita,” dalam Ekspresi, Jurnal ISI Yogyakarta. Yogyakarta: BP. ISI.

Mamik Widyastuti, “Studi Pencitraan Tokoh Srikandhi Dalam Pertunjukan Wayang Orang Gaya Surakarta” Tesis untuk memenui sebagai persaratan mencapai derajat Sarjana S-2. Sekolah Tinggi Seni Indonesia 2006

Padmosoekotjo, S. t.th. Ngèngrèngan Kasusastran Djawa. Djogjakarta: Hien Hoo Sing.

Paku Buwana IX. t.th. Serat Candrarini tuwin Rarakenya. Piwulang Dalem Ingkang Sinuhun Paku Buwana IX, Anyandra garwanipun Raden Arjuna. Dilatinkan oleh Suyatno Trunasurata (1995). Reksa Pustaka Mangkunegaran. Surakata No. A.360.

Prawiroatmojo, S. 1985. Bausastra Jawa–Indonesia. Jilid I dan II. Jakarta: PT. Gunung Agung.

Sachari, Agus. 2002. Estetika: Makna, Simbol, dan Daya. Bandung: ITB Press.

Soetarno, dkk. 1978/1979. Wanda-wanda Wayang Purwa Gaya Surakarta. Surakarta: Sub Bagian Proyek ASKI.

Suharti dan Pujiati Sayoga. 1986. Pribadi Wanita Jawa menurut Konsep Pendidikan yang Terkandung dalam Naskah Jawa. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nasional (Bagian Jawa).

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Previous Post Next Post